Keberadaan Carlton Cole, Manfaat atau Mudarat?

Laga perdana antara Persib Bandung melawan Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api direncanakan digelar pada 15 April mendatang. Ambisi Persib untuk membawa pulang gelar juara liga ditunjukkan di bursa transfer. Setelah sebelumnya membawa pulang kembali Shohei Matsunaga dan mendatangkan mantan pemain Chelsea, Michael Essien, kemarin Persib mengumumkan bahwa mereka telah mengontrak mantan pemain Chelsea lainnya, Carlton Cole untuk jangka waktu 10 bulan dengan opsi perpanjangan. Pemain bernama lengkap Carlton Michael George Cole ini lahir 33 tahun silam di Croydon, Inggris. Berposisi sebagai penyerang, Carlton memulai karir di akademi Chelsea. Sempat bermain bersama Essien di tim biru London tersebut pada musim 2005-2006. Tidak mendapat tempat utama di tim asuhan Jose Mourinho saat itu, Cole pindah ke sesama tim London, West Ham United pada awal musim 2006-2007. Bertahan di tim tersebut hingga 2015, Cole bermain selama 256 laga dan mencetak 55 gol untuk The Hammers. Setelah itu ia membela Celtic selama 1 musim, dan kemudian pindah ke tim kasta kedua Amerika, Sacramento Republic. Di Celtic ia hanya bermain selama 4 pertandingan, dan 3 pertandingan saja selama membela Sacramento Republic. Dengan catatan tersebut sekarang ia mencoba merajut nasib bersama Persib Maung Bandung di Liga 1. Apakah keputusan manajemen Persib untuk mengontrak marquee player keduanya ini merupakan keputusan yang tepat? Pastinya banyak mengundang pro dan kontra. Perdebatan pertama sudah muncul mengenai status Carlton Cole, apakah ia termasuk marquee player atau tidak. Aturan PSSI mengenai hal ini memang belum sepenuhnya jelas. Dikatakan bahwa marquee player adalah pemain kelas dunia yang pernah bermain di perhelatan 3 piala dunia terakhir (2006, 2010, 2014). Tetapi, PSSI juga menambahkan apabila tidak pernah bermain di piala dunia, pemain masih bisa dikatakan berstatus marquee player apabila pernah bermain di 8 liga top dunia, yakni Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Perancis, Belanda, Turki, dan Portugal. Tidak seperti aturan marquee player atau designated player di liga Australia, Amerika, dan India yang menggunakan aturan salary cap, peraturan di Liga 1 memang masih mengambang. Bila mengacu pada pegangan PSSI saat ini, maka Cole berstatus marquee player di Liga 1, karena walaupun tidak pernah mengecap laga piala dunia bersama Tim Nasional Inggris, Cole pernah malang melintang di liga utama negeri tersebut. Berita mengenai hal ini bisa dibaca juga di sini.

Carlton Cole berseragam West Ham (sepak bola.com)
Perdebatan selanjutnya adalah apakah Cole masih memiliki kemampuan yang mampu mendukung Persib ke tampuk juara. Selama 2 tahun terakhir karirnya, Cole tidak pernah mencetak gol lagi dan hanya tampil sebanyak total 7 pertandingan bersama Celtic dan Sacramento Republic. Bahkan di tim kasta kedua Amerika pun Cole tidak mampu menampilkan permainan terbaik. Marquee player bertujuan tidak hanya menambah kualitas liga dari sisi menarik penonton ke stadion tetapi juga sebagai ajang transfer kemampuan agar pemain-pemain lokal dapat memiliki kualifikasi lebih di masa yang akan datang. Apabila marquee player yang didatangkan hanya berlevel semenjana, apakah pemain tersebut layak untuk memperindah Liga 1 dan memperluas skill pemain-pemain lokal? Persib memang membutuhkan striker tambahan setelah Sergio van Dijk cedera saat melakoni laga Piala Presiden 2017. Dengan demikian lini depan Persib hanya bertumpu pada Shohei Matsunaga, yang bahkan aslinya bukan penyerang murni, melainkan penyerang sayap. Tetapi, apakah keputusan manajemen Persib mendatangkan striker mandul bisa dikatakan keputusan yang bijaksana? Hal yang bisa diperdebatkan berikutnya adalah aturan main di Liga 1. Sudah ditetapkan sebelumnya bahwa Liga 1 memakai aturan 2 1 1, yakni 2 pemain asing non-Asia, 1 pemain asing berafiliasi AFC, dan 1 marquee player dalam 1 pertandingan. Ditambah dengan setiap tim wajib memiliki 5 pemain di bawah usia 23 tahun yang 3 di antaranya minimal harus bermain selama 45 menit. Liga 1 memperbolehkan 1 tim melakukan 5 kali pergantian pemain dalam 1 pertandingan, walaupun peraturan ini mungkin belum bisa dilaksanakan karena bertentangan dengan Laws of the Game dari FIFA (selengakpnya bisa dibaca di sini). PSSI sendiri tidak membatasi jumlah marquee player yang boleh dimiliki sebuah tim, tetapi melihat aturan Liga 1 yang hanya memperbolehkan 1 marquee player bermain di lapangan membuat keberadaan Cole bersaing dengan Essien. Persib tidak mungkin menyandingkan mereka dalam 1 pertandingan Liga 1 manapun. Sungguh mubazir. Apakah tidak ada penyerang dalam negeri atau naturalisasi, atau pemain asing non marquee player yang dirasa cocok oleh Persib dalam mengarungi Liga 1? Apa dasar keputusan manajemen Persib mengontrak pemain seperti Cole untuk mengisi lini depan mereka? Apakah Cole dapat menjadi pembeda dalam pertandingan, sehingga Persib bersedia mengambil resiko mengontraknya? Bagaimana coach Djanur mengatasi hal ini? Apakah marquee player ini jatuhnya hanya buang-buang uang oleh Persib? Patut kita cermati dalam laga-laga Persib di Liga 1 mendatang.

istanbulescortlartr.org indotogel Sumber: Kompasiana