JK Ingatkan Ahok Jangan Banyak Bicara saat Kampanye

Jakarta – Bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta yang juga calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengaku berpesan agar berkompetisi dengan sehat dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang digelar pada Februari 2017 mendatang. Namun, yang paling penting, JK berpesan agar Ahok tidak banyak berbicara apalagi membawa perihal ayat atau ajaran agama tertentu, dalam kampanye. “Pesan saya, ya berkompetisi yang sehat. Jangan menimbulkan isu-isu yang bisa berbahaya. Jangan keluarkan ayat macam-macam. Jangan ngomong terlalu banyak lah,” kata JK di kantor Wapres, Jakarta, Jumat (28/10). Lebih lanjut, JK mengungkapkan bahwa kedatangan Ahok, pada Rabu (26/10) lalu adalah untuk berpamitan kepada atasan karena akan cuti untuk melakukan kampanye “Kemarin, datang sebagai gubernur untuk pamit. Jika besok dia sudah tidak lagi bertugas sebagai gubernur. Itu wajar saja, seseorang lapor ke atasan. Kan sudah ke Pak Jokowi kemudian ke saya,” ujarnya. Seperti diketahui, tiba-tiba, Ahok menyambangi kantor Wapres di Jalan Veteran III, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/10) sekitar pukul 15.00 WIB. Ditemui usai menghadap Wapres Jusuf Kalla (JK), Ahok mengatakan kehadirannya untuk melapor karena akan cuti selama tiga bulan. “Permisi kan mau off sebentar, hampir 3 bulan, ya Wapres di jakarta, kita gubernur ya,” kata Ahok sebelum meninggalkan kantor Wapres, Jakarta. Kemudian, dalam pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Ahok mengaku mendapat banyak nasihat dari Wapres JK selaku senior yang pernah sama-sama di Golkar dan pernah bersama di DPR RI. “Banyak orang tidak tahu yang masukin saya jadi caleg (calon legislatif) dari Babel (Bangka Belitung) itu JK,” ujarnya. Lebih lanjut, Ahok mengungkapkan bahwa telah mendapat arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) perihal kerjaan yang harus sudah dibereskan sebelum cuti kampanye. Di antaranya, adalah Asean Games dan LRT. Sebelumnya, secara tidak langsung Wapres JK sempat menasehati Ahok. JK .mengingatkan agar semua pihak menahan diri dan tidak membawa isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) atau terpancing menggulirkan isu SARA dalam proses politik demi mendapatkan keuntungan. “Jangan memakai itu sebagai SARA, tapi jangan juga menjadi kata yang menyebabkan orang marah. Keduanya harus dijaga ini, tidak boleh karena SARA, tapi jangan juga asal ngomong, asal tuduh. Untuk supaya itu tenang, saya minta agar tenang semua orang, kedua harus jaga ini,” tegas JK di kantor Wapres, Jakarta, Jumat (21/10). Namun, JK meminta kepada cagub yang digugat karena diduga membawa isu SARA tersebut agar berhati-hati dalam berbicara. Bahkan, dia mencontohkan bagaimana Donald Trump turun perolehan dukungannya dikarenakan banyak berbicara. “Sama (seperti) Trump, kenapa orang menurun pemilh kepada Trump? Karena tuduh kiri-kanan kan. Bahwa ada orang memakai itu juga salah juga. Orang tidak memilih Trump bukan karena orang tidak suka (Partai) Republik tetapi karena Turmp ngomongnya terlalu macam-macam,” ujarnya. Terkait kasus Al Maidah, JK mengatakan menjadi salah karena ada kata-kata “bohong” di dalamnya sehingga membuat masyarakat tersinggung. Padahal, diungkapkannya selama ini masyarakat tidak pernah protes ketika pemimpin daerah yang terpilih bukan dari kalangan mayoritas, yaitu ummat Islam. JK mencontohkan di Kalimantan Tengah, masyarakat mayoritas Islam tidak protes ketika pemimpin yang pernah terpilih adalah Teras Narang yang beragama Katolik. Oleh karena itu, menurutnya, penduduk Indonesia sesungguhnya sangat kuat toleransinya. “Jadi bukan soal agama, ini etika. Mulut mu harimau mu, itu saja masalahnya, masalah Jakarta itu. Saya kira seluruh di Indonesia orang tidak setuju memilih pemimpin yang berbeda agama, iya bahwa orang tidak senang pasti, bukan hanya di sini. Di Amerika butuh 240 tahun baru orang hitam bisa jadi presiden, butuh 175 tahun di Amerika baru orang Katolik jadi presiden. Jadi, soal agama itu bukan soal pilihan, jangan mengatakan kalau mayoritas itu tidak pilih Pancasilais tidak lengkap,” ungkapnya. Sebagaimana diberitakan cagub DKI Jakarta, Ahok diduga menistakan Islam karena menafsirkan surat Al Maidah ayat 51, dalam sambutannya di Kepulauan Seribu. Sambutan Ahok tersebut menuai isu SARA menjelang pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta, pada Februari 2017. Hingga memancing sejumlah ormas Islam berunjuk rasa karena terpancing dengan isu SARA tersebut. Novi Setuningsih/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu