Pelapor Sebut Keterangan Ahli Muter-Muter

Jakarta – Gelar perkara kasus dugaan penistaan agama sesuai pasal 156a KUHP yang melibatkan Gubernur non aktif DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mulai memasuki babak penting. Gelar yang dihelat di Rupatama Mabes Polri sejak Selasa (15/11) pagi itu pada petang ini sudah memasuki tahap mendengarkan kesaksian para ahli setelah sebelumnya kesaksian ahli itu telah dibacakan oleh penyidik. “(Saksi ahli bahasa yang dihadirkan polisi) enggak ada ujungnya, cuma analisa kata, cuma analisa kalimat, terus analisa struktur. Enggak merumuskan. Hanya menganalisa kata tapi enggak ada kesimpulan. Mereka Wahyu Bowo dan Mick,” kata Neno Warisman yang jadi pendamping saksi ahli bahasa dari pelapor. Menurut analis bahasa pelapor, Neno menambahkan, jelas Ahok melakukan kebohongan. Pihaknya memakai teori linguistik generatif. Dalam teroi itu ada bagian speech act . “Ada tindakan berbicara yang senilai dengan orang bertindak. Berbicara itu sama dengan bertindak. Misalnya akad nikah. Akad nikah itu tindakan berbicara saya terima nikahnya makanya dengan tindakan berbicara itu yang haram menjadi halal maka muncul speech act,”urainya. Speech act itu, masih kata Neno, memiliki tiga syarat. Salah satu yang terpenting adalah adanya niat. Orang berbicara itu tidak mungkin tidak pakai niat kecuali dia gila atau gigau. Dia juga tidak mungkin berbicara tanpa tujuan. “Kalau tanpa tujuan sama saja kaya orang naik mobil itu mau ke mana kiri atau kanan, enggak jelas. Kalau dia mengeluarkan bahasa tersusun semua itu adalah satu hal yang disengaja,” lanjutnya. Dibagian lain seorang penyidik yang menangani kasus ini menceritakan pada Beritasatu.com jika sejauh ini posisi kasus ini masih 50:50. Penyidik masih menggali “maksud dan tujuan” Ahok serta niat ( mensrea ) dalam kasus ini. Farouk Arnaz/YUD BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu