Ketika Mimpi Ranieri Terhenti

Claudio Ranieri mengeluarkan pernyataan pertama setelah dipecat dari kursi manajer Leicester City. Pelatih berusia 65 tahun itu mengatakan pemecatan tersebut telah merenggut mimpinya.
The Foxes – julukan Leicester – resmi memecat Claudio Ranieri pada Kamis (23/2/2017). Hal itu dilakukan lantaran keterpurukan yang dialami Leicester hanya sembilan bulan setelah mengangkat trofi Premier League 2015-2016.
Di bawah polesan Ranieri musim ini, Leicester tertanam di peringkat ke-17 atau cuma segaris di atas zona degradasi. Rasio kemenangan Leicester cuma 20 persen, bandingkan dengan 60 persen yang diraih pada musim lalu.
“Kemarin, mimpi saya mati. Setelah euforia musim lalu dan mendapatkan mahkota juara, semua yang saya impikan adalah bertahan dengan Leicester. Menyedihkan hal ini tak terjadi,” kata Ranieri, dikutip BBC, Jumat (24/2/2017).
“Petualangan musim lalu menakjubkan dan akan tetap saya kenang selamanya. Saya sangat berterima kasih kepada semua orang di klub, semua yang menjadi bagian prestasi kami, terutama pada suporter. Kalian mencintai saya, begitu juga saya,” tuturnya.

Here is the statement from Claudio Ranieri, released to @PAdugout #LCFC pic.twitter.com/5u6ZrfEENE
PA Dugout (@PAdugout) February 24, 2017
Kisah indah setara dongeng yang dirangkai Leicester City saat juara musim lalu melambungkan nama Ranieri hingga menyabet penghargaan The Best FIFA Football Coach atau Pelatih Terbaik Dunia 2016 versi FIFA.
“Sungguh waktu yang penuh keajaiban dan kebahagiaan yang tak akan pernah saya lupakan. Sebuah kesenangan dan kehormatan menjadi juara bersama kalian semua,” ucap mantan pelatih AS Roma itu.
Sejumlah nama telah dikait-kaitkan untuk menjadi pengganti Ranieri di Leicester. Untuk sementara, tugas melatih diserahkan kepada Craig Shakespeare dan Mike Stowell pada persiapan laga melawan Liverpool, akhir pekan ini. (Beri Bagja)

istanbulescortlartr.org Tips Bola Agen Taruhan Bola Online Sumber: Kompas.com