Membina Dengan Hati

Kontingen Indonesia gagal total di SEA Games XXVIII/2015 Singapura. Indonesia hanya mampu berada di urutan kelima di belakang Thailand, Singapura, Vietnam, dan Malaysia. Padahal targetnya menempati urutan kedua. Perolehan medali emas pun di bawah target yang dijanjikan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Menpora sesumbar untuk merebut 72 medali emas, kenyataannya kita hanya mendapatkan 47 medali emas, persis seperti target yang ditetapkan Tim Prima KONI Pusat. Baca juga Tim Basket Putri Indonesia Sukses karena Cinta “Prestasi Muncul Jika KONI dan KOI Bersatu” Ketum Perbasi Kurang Perhatian Terhadap Atletnya Brandconnect Mengenal Lebih Dekat Penjara Tasmania di Hobart Dengan kegagalan tersebut apakah Presiden Joko Widodo akan melakukan langkah yang sama seperti membekukan PSSI? Ketika mendukung langkah Menpora membekukan PSSI, Jokowi mengatakan, “Lebih baik kita berlatih dahulu di dalam negeri. Untuk apa mengirimkan atlet keluar negeri kalau hanya untuk kalah.” Yang jelas kegagalan Kontingen Indonesia di SEA Games XXVIII menggambarkan terpuruknya olahraga kita. Hampir semua cabang olahraga gagal untuk mencapai target yang ditetapkan. Hanya beberapa saja yang berhasil mencapai dan melewati target, seperti Atletik, Bulu Tangkis, Dayung, Kano, dan Perahu Naga, serta panahan. Renang yang menyediakan 38 medali emas, kita hanya mampu merebut satu saja. Dalam olahraga permainan seperti sepak bola, tenis, bola basket, bola voli, tenis meja, Indonesia tidak mampu berbicara banyak. Dengan fakta itu sebenarnya bukan hanya sepak bola yang bermasalah dengan prestasi. Banyak cabang lain juga menghadapi masalah besar, tetapi Menpora tidak pernah mau memperhatikannya. Seharusnya Menpora memperhatikan perkembangan seluruh olahraga. Balap sepeda memiliki tiga pengurus yang saling berebut kepemimpinan. Apakah Menpora mau turun tangan untuk menyelesaikannya? Chef de Mission Kontingen Indonesia Taufik Hidayat sejak lama mengingatkan Kemenpora untuk memenuhi kebutuhan peralatan dan uang saku para pemain. Namun banyak cabang yang baru menerima peralatan dan uang saku menjelang keberangkatan ke Singapura. Berkaca Diri Kegagalan di Singapura seharusnya dipakai Menpora untuk berkaca diri. Apakah seluruh jajaran di Kemenpora sudah bekerja sesuai standar yang seharusnya? Apakah semua tugas dan tanggung jawab sudah dilaksanakan? Jangan seperti “Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak.” Bisa menilai rumah tangga PSSI bobrok, namun ternyata rumah tangga sendiri pun tidak lebih baik. Kemenpora seharusnya menjadi model pengelolaan olahraga yang baik. Dengan itulah Kemenpora bisa menjadi model organisasi dari induk-induk olahraga yang ada. Dengan itulah maka kita pantas berharap peningkatan prestasi. Kalau Kemenpora tidak bisa menjadi model organisasi yang baik, tidak usah heran apabila prestasi olahraga Indonesia terpuruk. Padahal tantangan baru yang harus dihadapi sudah di depan mata. Kita akan menghadapi Olimpiade Rio de Janeiro 2016, SEA Games XXIX 2017, dan Asian Games 2018 di kandang sendiri. Pakai Hati Membina olahraga tidak mungkin dilakukan hanya sekadar menggunakan kekuasaan. Pembinaan yang berhasil adalah pembinaan yang menggunakan hati. Mengapa? Karena yang dibina adalah anak-anak usia muda. Atlet-atlet yang kita didik adalah anak-anak yang membutuhkan bimbingan untuk bisa menemukan pribadinya dan menjadi pribadi yang diinginkannya. Kita lihat saja atletik yang bisa merebut tujuh medali emas. Mereka mampu melewati target enam medali emas yang ditetapkan oleh Menpora, KONI Pusat, maupun KOI. Kuncinya terletak dari kesungguhan para pembinanya untuk terus mendampingi para atletnya. Ketua Umum PB PASI Bob Hasan seminggu dua kali ikut berlatih bersama atlet. Ia ikut stretching bersama para atlet setelah mereka berlatih. Dengan itulah kemudian terbina hubungan batin. Atlet-atlet berbakat mulai usia 13 tahun dikumpulkan di Stadion Madya. Mereka bukan hanya sekadar berlatih, tetapi diberi pendidikan sesuai dengan kemampuannya. Tidak sedikit para atlet itu yang kini duduk di bangku kuliah. Tidak hanya itu, yang sudah selesai sekolah dan ingin mendapat pekerjaan juga dibantu dicarikan pekerjaan. Ada beberapa atlet yang kini menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia. Cara mendidik Bob Hasan kepada para atlet tidak ubahnya seperti ayah kepada anak-anaknya. Kadang-kadang pergi jalan-jalan untuk makan. Menjelang puasa, semua atlet diajak berbelanja kebutuhan sehari-harinya. Namun, ketika ada atlet yang tidak disiplin seperti keluar Pelatnas hanya menggunakan kaos singlet, Bob Hasan tidak segan menegurnya. Miliaran rupiah dana yang dikeluarkan Bob Hasan untuk para atlet. Nyaris tidak ada bantuan dan perhatian yang diberikan pemerintah. Namun, ia tidak mengeluh dan tetap telaten untuk membina para atletnya. Kirim Bertanding Atlet tidak cukup hanya disuruh berlatih. Mereka butuh tempat untuk mengukur kemajuan. Atlet membutuhkan arena untuk bertanding untuk mengasah kemampuannya. Menjelang SEA Games, Bob Hasan mengirimkan para atletnya ikut pertandingan pemanasan di Singapura Terbuka, Doha Qatar, dan Wuhan Tiongkok. Ketika akan mengirimkan 24 atletnya ke Singapura, para pejabat KONI Pusat keberatan karena tidak ada biaya. Bob Hasan pun mengeluarkan uang sendiri untuk mengirim atlet seperti yang diminta pelatih. Mengapa? Karena Bob Hasan tahu lawan yang akan dihadapi di SEA Games juga serius mempersiapkan diri. Thailand mengirimkan atletnya berlatih di Amerika Serikat dan itu ditanggung oleh pemerintah. Pemerintah Indonesia memang banyak maunya terhadap peningkatan prestasi atlet. Namun mereka beranggapan, prestasi akan datang dengan sendirinya. Padahal prestasi adalah hasil dari proses latihan dan pertandingan yang terus menerus. Keberhasilan prestasi membutuhkan ketersediaan anggaran. Tidak mungkin prestasi akan bisa dicapai tanpa ada kemauan pemerintah untuk menyediakan anggaran bagi pembinaan olahraga. Di zaman Orde Baru, prestasi atlet Indonesia sangatlah disegani. Indonesia selalu menjadi kekuatan di cabang renang. Semua itu bisa dicapai karena ada sosok Ketua Umum seperti Ginandjar Kartasasmita yang mampu menggalang dana dan pembina seperti Radja Nasution yang setiap sore ada di kolam renang melihat latihan para atlet. Tidak mungkin kita mengembalikan kejayaan olahraga Indonesia tanpa ada kemauan untuk berkorban. Kemauan dari para pembina untuk datang, menyapa, dan bercengkerama dengan atlet. Kemauan untuk menggunakan hati karena mereka sedang membina anak-anak muda yang punya hati, untuk memberikan waktu dan tenaganya bagi keharuman Ibu Pertiwi. (RIZ)

Sumber: MetroTVNews