Di Era Reformasi, Hukum Ditekuk oleh Kepentingan Bisnis

Depok – Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Tamrin Amal Tomagola menilai penegakan hukum di Indonesia di era reformasi telah ditekuk kepentingan bisnis. Hukum telah menjadi alat pemuas dan penjaga kepentingan para pemilik modal. “Hukum, hakim, dan penegakan hukum di era reformasi, awalnya bagus, tetapi saat ini, penegakan hukum sudah dibajak kepentingan bisnis,” ujar Tamrin saat menjadi pembicara dalam Seminar bertajuk “70 Tahun Penegakan Hukum” di Gedung Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (15/8). Selain Tamrin, hadir sebagai pembicara Hakim Agung Artidjo Alkostar, Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra. Menurut Tamrin, penelikungan hukum, tidak saja terjadi pada era reformasi, tetapi juga pada Orde Lama dan Orde Baru. Adapun hukum benar-benar ditegakkan, kata dia, terjadi pada era tahun 1950 sampai tahun 1959. “Pada era Orde Lama, ketika Soekarno masuk dalam demokrasi terpimpin, ada dua kesalahan. Pertama, Soekarno mengabaikan prinsip trias politica dengan memasukkan mahkamah militer ke Mahkamah Agung (MA). Kesalahan kedua Soekarno, memasukkan MA ke dalam kabinet,” ungkap dia. Tamrin menilai lembaga peradilan atau yudikatif harus independen dan netral dari eksekutif dan legislatif. Yudikatif tidak boleh diintervensi oleh eksekutif dan legislatif. “Alasan Soekarno waktu itu adalah hukum dan hakim sebagai alat revolusi sehingga hukum akhirnya tidak memiliki roh dan jiwa Pancasila,” tandas dia. Sementara, di era Orde Baru, lanjut Tamrin, hukum, hakim dan penegakan hukum ditekuk rezim berkuasa sehingga menjadi alat pembangunan. Ketika menjadi alat, kata Tamrin, hukum tidak mempunya roh dan jiwa sehingga keberadaannya seperti benda mati. “Padahal penegakan hukum bukan seperti menegakkan benda mati, tetapi seperti pohon tumbuh yang di dalamnya ada kehidupan. Roh hukum kita adalah Pancasila, karena itu hukum kita harus hukum yang pancasilais,” terang dia. Yustinus Paat/WBP BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu